CATATAN RENUNGAN KEHIDUPAN

25 06 2010

Manusia tercipta di atas dunia sebagai khalifah, menjadi pemimpin dalam dirinya, keluarganya, dan orang-orang yang ada disekelilingnya. Pemimpin bukan berarti menjadi penguasa atas apa yang ia kuasai, bukan pula menjadi sesembahan terhadap apa yang ada di bawahnya, akan tetapi ia menjadi panutan untuk menuju kehidupan yang hakiki. Setidaknya itulah sekelumit tugas manusia sebagai khalifah di atas dunia ini.

Melirik dari sejarah kelahiran Islam, pada hakikatnya Allah menurunkan Rasulullah SAW mengemban tugas pertama untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti serta beriman kepada Allah bukan untuk beribadah.  Hal ini disebabkan karena pada masa itu akhlaklah yang telah menjadikan manusia semakin tidak menentu. Kehadiran Islam ini bukan berarti tidak mendapatkan perlawanan dari berbagai suku dan kafilah di Jazirah Arab pada saat itu, bahkan mereka berani mempertaruhkan harta dan nyawa mereka untuk menentang. Tetapi Allah adalah Maha Kuasa atas segala kuasa yang ada di atas dunia, Dialah Allah yang memegang setiap hati manusia.

Sekarang coba kita bertanya dalam hati masing-masing, kalau memang “Allah adalah Maha Kuasa di atas segala kuasa” kenapa Allah tidak meng-Islam-kan seluruh manusia yang ada di atas dunia ini?. Ini lah bukti kebesaran Allah, ya kalau sebenarnya kita berfikir sebatas itu, jelas Allah tidaklah adil terhadap kekuasaannya sedangkan di satu sisi Allah itu memili sifat Maha Adil.

Kemahakuasaan Allah bukanlah berarti DIA mewujudkan seluruh manusia di atas dunia ini menjadi tunduk kepadaNya dan keadilan Allah juga bukan berarti DIA menyamaratakan seluruh kehidupan manusia, akan tetapi kekuasaan dan keadilan Allah terletak pada apa yang telah DIA berikan kepada manusia itu sendiri. Allah telah menurunkan para Nabi dan Rasul untuk dijadikan sebagai panutan serta kitab suci sebagai pedoman dalam menjalan kehidupan mereka di atas dunia. Di samping semua itu pada diri manusia sendiri Allah telah memberikan aspek penting berupa akal untuk berfikir dan menentukan jalannya masing-masing.

Sadar atau tidak manusia itu sendiri sebenarnya Allah telah memberikan bekal yang sempurna. Sekarang tergantung kepada manusia itulah untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya sendiri, yang jelas setiap manusia dan segala isi yang ada di antara langit dan bumi semuanya tempat kembali hanyalah kepada Allah dan Allah hanya menerima sesuatu yang baik dan suci.

“Ya Allah, Engkaulah yang Maha Kuasa dan Maha Adil tiada kuasa dan keadilan melainkan sandarannya hanya kepada Engkau. Segala kebaikan terpancar dari seluruh kemurahan MU dan keburukan itu tidak pernah Engkau inginkan”.

Rasulullah di lahirkan sebagai manusia biasa dengan kelebihan yang diberikan oleh Allah, sebagai seorang Nabi dan Rasul beliau telah menjalankan amanah yang diembannya, setelah tugas pertama seperti yang di kemukakan di atas, maka barulah Allah menurunkan perintah untuk beribadah dan inilah metode pengajaran yang Allah contohkan kepada manusia itu sendiri. Manusia sebagai khalifah dan ciptaan Allah, sudah sepatutnya teori dan metode yang telah dicontohkan ini patut untuk ditiru dan dikembangkan.

“Ya Allah berikanlah kemudahan dan kekuatan kepada kami untuk tetap berada di atas jalan yang engkau ridhai”.





Salonako Kec. Afulu

7 09 2009

Salonako adalah salah satu daerah yang masuk dalam Otonomi Kabupaten Nias Utara terletak di Kecamatan Afulu. Pada awalnya Salonako atau Desa Faekhunaa bergabung di Kecamatan Alasa, dengan adanya pemekaran kecamatan maka daerah ini secara pemerintahan di pindahkan ke Kecamatan Afulu pada bulan September 2003.

Sebagai sebuah daerah yang terletak di Pesisir bagian Barat Pulau Nias dengan potensi alam dan lautnya yang mempesona menyebabkan daerah ini sebagai salah satu tujuan pariwisata mancanegara. Dengan ombak lautnya yang menggulung-gulung memecah di tepi pantai menarik bagi mereka yang ingin berselancar air (surfing).

Pantainya yang bersih dengan pasir yang putih mendatangkan pesona tersendiri bagi siapa saja yang telah singgah dan melihatnya, benar-benar menjadi salah satu wisata pantai dan laut yang indah. Perlu diketahui bahwa Desa Faekhunaa Kecamatan Afulu pada awalnya sebelum Indonesia merdeka termasuk dalam pemerintahan kerjaan Negeri Tumula.

Bagi mereka yang ingin menghibur diri melepaskan lelah dengan pemandangan alam dan laut yang indah, maka PANTAI SALONAKO adalah satu daerah yang patut untuk di kunjungi, hanya sayangnya sejak Indonesia merdeka, daerah ini seolah-oleh tidak pernah merasakan kemerdekaan itu sendiri.

Desa dengan jarak 12 km dari ibukaota kecamatan ini hanya bisa hanya bisa ditempu dengan kendaraan roda dua dengan jalannya yang masih belum berbau aspal sehingga menyebabkan kesukaran untuk sampai, belum lagi kondisinya yang sangat-sangat mengancam keselamatan.

Berhubung daerah ini merupakan salah satu tujuan pariwisata mancanegara dan domestik seharusnya pihak pemerintah dengan kerja sama masyarakat untuk benar-benar menjadikan Salonako sebagai salah satu tujuan wisata teredepan di masa yang akan datang. SEMOGAAlim M Zalukhu





Nias dan Islam

1 09 2009

NIAS demikian nama salah satu pulau besar di deretan pulau Sumatera yang masuk dalam otonomi propinsi Sumatera Utara. Sebagai sebuah pulau terluar dalam teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia pulau ini memiliki budaya yang unik serta pariwisata yang telah mendatangkan investasi bagi daerah tersebut.

Dalam penelitian pihak kebudayaan dari PBB pasca gempa pada tanggal 28 Maret 2005 menunjukkan bahwa Nias merupakan salah satu daerah peninggalan sejarah, seiring dengan itu, maka pulau ini dijadikan sebagai salah sejarah peninggalan dunia.

Melihat perkembangan pembangunan pasca gempa 2005 Pulau ini di pecah menjadi 4 Kabupaten dan 1 Kota yaitu; Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kanupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat dan Kota Gunungsitoli. Perkembangan ini menunjukkan partisipasi dan perhatian pemerintah dalam membangun Nias ke depan.

Di sisi lain, Nias adalah daerah yang penduduknya terdiri dari mayorita agama Kristen dan Islam hidup berbaur dalam kehidapan sehari-hari tanpa adanya silang sengketa yang akan melahirkan perpecahan dan perang agama. Patut untuk dijadikan contoh dalam kehidupan antar ummat beragama. Namun hal ini sangat berbeda dengan pandangan orang-orang yang berada di luar Pulau ini, contohnya saja sebagain orang Minang yang sampai sekarang menganggap bahwa Pulau ini masih didiami oleh ummat Kristen dan belum disentuh oleh agama lain, padahal kalau kita perhatikan lebih seksama, sentuhan ajaran agama Islam di Pulau ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan Minangkabau dan Aceh.

Penduduk Islam di wilayah Kota Gunungsitoli dan memanjang ke Nias Selatan pulau Nias mengalami sentuhan ajaran Islam dari orang-orang yang datang dari wilayah Sumatera Barat sedangkan wilayah Nias bagian Utara dan Barat sentuhan ajaran Islam dari Aceh. Ini menunjukkan bahwa anggapan sebagian masyarakat yang ada di luar Pulau Nias tentang agama Islam tidaklah benar.

Sentuhan keagamaan yang merambah subur di Pulau Nias juga mempengaruhi adat istiadat yang ada, salah satu dicontohkan bahwa di Nias memiliki adat Tabuik yang perpaduannya berasal dari Sumatera Barat dan Daerah Istimewa Aceh. Dalam adat pernikahan pun adat istiadat dua daerah ini menempati posisi yang sangat sentral terhadap penduduk yang beragama Islam. Pelaksanaan pesta pernikahan di daerah ini hampir seluruhnya menggunakan bahasa Minang yang di daerah ini di kenal dengan bahasa pesisir.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.